Senin, 02 Januari 2012

0 Menjadi Pengusaha Tanpa Modal

Menjadi Pengusaha Tanpa Modal 
Januari, 2011
oleh: Indriyanto
SEBENARNYA, saya yakin bahwa orang Indonesia semua dapat hidup sejahtera dan sukses. Tentu jika punya niat untuk sejahtera, mengubah pola pikir yang salah, menggali potensi diri, membangun keyakinan untuk usaha, membuat recana dan mengerjakannya dengan benar, dan terus belajar tanpa takut akan kesalahan dalam proses menuju sukses.

Mengapa orang Indonesia semua bisa sejahtera? Karena negeri kita ini telah dikaruniai Tuhan sumber daya alam yang kaya dan melimpah. Kita punya pertambangan, perkebunan yang luas, lautan yang dipenuhi keanekaragaman jenis ikan yang berlimpah. Tinggal bagaimana kita mensyukuri dan mengelolanya dengan baik dan benar.
Ironisnya, mengapa sebagian besar penduduk Indonesia masih hidup dalam kemiskinan? Dan masih harus bekerja keras untuk dapat mencapai hidup yang sejahtera. Dengan berbagai masalah di atas, saya masih optimis jika individu bangsa ini masih mau berpikir positif untuk mengambil hikmah semua ini, masih ada seribu jalan menuju hidup sejahtera dalam keadaan apapun negeri ini.
Melalui rubrik Riau Pos ini, marilah kita mempersiapkan diri untuk dapat memberikan sekecil apapun yang terbaik untuk negeri ini. Ada beberapa hal yang harus dilakukan jika ingin memulai usaha agar usaha tersebut menjadi sukses.
Mengubah Pola Pikir
Pola pikir sangat mempengaruhi gambaran maupun persepsi terhadap sesuatu yang akan kita lakukan. Secara emosional juga akan membuat mental dalam diri kita menjadi positif, sehingga kita memiliki potensi yang luar biasa untuk menjadi yang terbaik.
Secara umum perubahan fundamental pola pikir bangsa kita untuk mencapai kesejahteraan hidup adalah: Pertama, mengubah mental buruh/pegawai menjadi mental menciptakan tenaga kerja. Pada kenyataan mental bangsa ini masih ingin menjadi pegawai/buruh.  Buktinya, untuk meluluskan anaknya menjadi pegawai negeri, banyak orangtua harus menjual tanah dan barang berharga.
Seperti sudah tidak terpikirkan lagi, bahwa rezeki pegawai negeri yang belum tentu menjadi milik anaknya itu dipaksakan untuk menjadi miliknya. Tak peduli, meski dengan cara harus menyogok, sehingga rezeki yang diperoleh anaknya itu belum tentu halal untuk kehidupan dunia maupun akhirat.
Kedua, mengubah mental suka berutang menjadi mental harus menabung dan berinvestasi. Saya teringat di salah satu acara televisi seorang bupati di suatu daerah menyampaikan sambutan kali pertama kepada PNS yang baru diangkat dengan mengkaitkan SK pengangkatan dengan pinjaman uang di bank.
Bupati memberikan selamat karena mereka sudah diangkat dan memiliki SK pengangkatan yang bisa digadaikan untuk meminjam uang di bank. Anehnya, tepuk tangan pun mengema di antara sesama PNS.
Jika begini, bagaimana dengan komitmen dan profesi pegawai negeri sebagai abdi negara? Baru saja masuk kerja, gaji sudah tergadai di bank untuk membayar cicilan.
Ketiga, harus melakukan restorasi. Kita jangan malu, jika suatu saat harus mencontoh kepada orang yang sudah berhasil dalam usahanya untuk mendapatkan kesejahteraan hidup. Restorasi adalah suatu bentuk perbaikan fundamental pola pikir, pola perasaan dan pola tindakan untuk meraih kemajuan di masa mendatang. Kemajuan ini berupa perbaikan ekonomi, sosial dan budaya.
Membangun Keyakinan
Yang dimaksud keyakinan adalah semua masukan yang kita terima dengan kebenaran di dalam diri kita. Secara sadar maupun  tidak akan mempengaruhi sikap dan tindakan kita, dan seringkali apa yang kita yakini akan menjadi kenyataan. Keyakinan bisa tercipta dari pengalaman kita, apa yang kita lihat, kita dengar, maupun kita rasakan.
Melakukan ritual doa dan belajar dari referensi orang lain dengan melihat mereka melakukan usaha yang berhasil. Cara mempunyai keyakinan yang benar adalah mengubah keyakinan secara sadar, misalnya mengubah keyakinan yang salah. Jika ingin berusaha perlu modal yang besar, maka keyakinan itu secara sadar harus diubah.
Untuk menjadi pengusaha sukses sudah banyak buktinya tidak perlu pakai modal, bahkan dengan modal nol. Untuk menjadi pengusaha hanya dibutuhkan ide dan kemampuan untuk meyakinkan orang lain.
Di samping itu untuk mendapatkan keyakinan yang benar adalah melakukan incantation, semacam mantra yang berupa kata-kata yang penuh emosional yang kuat, sehingga sesuatu saat kita mempercayainya. Misalnya, tidak ada kata gagal yang ada hanya sukses dan belajar. Contoh lain perlu diucapkan, bahwa saya pasti bisa, dan lain-lainnya.
Wirausaha
Saya ingin mengajak pembaca untuk membentuk jiwa wirausaha (entrepreneurship), yakni jiwa yang harus memiliki kecerdasan emosional, spiritual, kecerdasan finansial penggunaan otak kanan dan keativitas. Di jiwa wirausaha seseorang harus bisa survive dan sukses dalam keadaan apapun, meski tidak memiliki sumber daya materi, seperti modal uang, modal bangunan dan lain-lain. Sumber daya yang paling diandalkan oleh seorang wirausaha adalah dirinya sendiri. Bagaimana diri kita mengelola modal, tenaga dan pikiran orang untuk usaha kita.
Saya ingin menceritakan pengalaman ketika mendirikan Rumah Bersalin dan Klinik Dokter Herlinda. Saya berkomitmen dan percaya bahwa semua orang bisa melakukannya. Waktu itu saya membeli rumah di Pandau Permai sebanyak dua unit dengan masing-masing tipe 70 dengan luas tanah 400 M2. Dengan kredit Bank BTN, uang muka 20 persen dari harga, dan bisa dicicil tiga kali. Sedangkan pinjaman di bank selama 10 tahun dengan cicilan Rp987.000 per bulan. Pada pembayaran yang pertama saya bernegosiasi dengan pihak developer agar bisa diizinkan memulai usaha di rumah tersebut. Alhamdulillah usaha lancar karena saya gunakan cara pemasaran yang benar.
Hasilnya, setelah enam bulan Rumah Bersalin dan Klinik Dokter Herlinda beroperasi keuntungannya sudah bisa membayar semua uang muka dan cicilan di BTN. Ternyata malah bisa lunas selama tiga tahun. Jadi bisa dibayangkan, saya sudah menggunakan modal orang lain dalam hal ini developer, tenaga perawat dan dokter, untuk memulai dan mengelola usaha, sehingga saya membeli rumah tersebut hanya mengeluarkan uang sepertiga dari 20 persen uang muka. Sampai sekarang usaha itu sudah dapat memberikan pasokan modal untuk cabang-cabang usaha klinik yang lain.
Bagaimana Usaha Tanpa Modal?
Kita bisa memiliki usaha tanpa harus punya modal. Ada beberapa cara yang bisa kita tempuh. Misalnya, pertama, menjadi perantara. Caranya dengan melibatkan diri dalam pemasaran sebagai marketing agen, menjual barang orang dengan cara konsi nyasi yaitu orang titip barang, dan baru bayar ketika barang laku. Setelah modal terkumpul baru buka sendiri. Kita juga bisa mulai usaha tanpa modal, dengan menjadi makelar, dengan berani bertindak, komitmen dan bergabunglah dengan orang-orang yang kaya dan sukses.
Kedua, kerja sama. Di mana kita menyediakan waktu, tenaga dan keahlian kita dan mengharapkan pihak lain menyediakan modalnya. Ketiga, berkarir dulu. Kita melakukan ini dengan kesadaran penuh untuk manambah ilmu, mengumpulkan banyak teman membangun jaringan koneksi, tanpa terlalu memperhitungkan dengan hasil atau gaji yang diterima. Sambil menabung kita mulai usaha sebagai partner, jika sudah mampu buka usaha sendiri. Anda pasti bisa. Semoga.***
Ir H Indriyanto, pemilik dan pengusaha Klinik Dokter Herlinda Group.

http://riaupos.com/news/2011/01/13/menjadi-pengusaha-tanpa-modal-oleh-indriyanto/

0 komentar:

Poskan Komentar